Alkisah,
Nabi Khidir terkenal sangat alimnya. Suatu ketika ia berpergian kepasar. Dalam
perjalanannya itu, ia disapa oleh seorang pengemis yang memohon sedekah. Karena
merasa iba, Nabi Khidir mendekatinya. Pengemis itu mengulangi permohonannya
disertai do’a.
Nabi
Khidir hatinya terketuk dan yakin, bahwa kelak kehendak Allah jua orang ini
jadi begini. Tapi Nabi khidir sangat menyesal karena tidak mempunyai sesuatu
untuk diberikan kepada pengemis itu.
“Maaf
aku tak punya apa-apa yang bisa kuberikan padamu,”
Pengemis
itu lalu menyebut nama Allah dan berkata, “Berilah alu sedekah ala kadarnya.
Aku lihat wajahmu yang baik. Tolong berilah aku sedekah!”
Lalu
Nabi Khidir menjawab : “Dengan menyebut nama Allah pula, aku mohon maaf. Aku
tidak punya apa-apa. Tetapi jia kau menghendaki diriku, maka aku rela menjadi
budakmu.”
Lalu apa kata pengemis
kemudian??
“Bolehkan
aku menjual dirimu?”
“karena
kau dengan menyebut nama Allah, aku bersedia menjadi budakmu. Ini tenti karena
kebesaran Allah juga yang kau inginkan. Karena itu juallah diriku kepada orang
lain agarmemperoleh uang yang cukup.”
Seketika
itu pengemis berdiri mengawasi orang-orang yang lewat disitu. Ia mencari orang
yang dipandang mampu membeli Nabi Khidir untuk dijadikan budak.
Tidak
lama kemudian Nabi khidir terbeli oleh seorang pedagang dengan harga empat
dirham. Nabi Khidir pun ikut majikannya yang baru.
Telah
berhari-hari Nabi khidir berada dirumah majikan, namun tak pernah menerima
perintah apapun dari majikannya. Akhirnya Nabi pun merasa tidak enak. Maka
timbullah keingininannya untuk menanyakan kepada majikannya.
“Mengapa
engkau tidak pernah menyuruhku, padahal aku sudah jadi budakmu?” Tanya Nabi
Khidir.
“Aku
tidak tega melihatmu, karena engkau sudah tua dan tampak lemah.”
“Walaupun
aku sudah tua, tapi tak ada yang berat bagiku. Berilah aku tugas.”
Karena
Nabi meminta, ia pun disuruh majikannya untuk memindahkan bebatuan yang ada
dihalaman rumah. Tidak lama kemudian pekerjaan itu selesai dengan cepat.
Majikannya baru pergi sebentar, heran dibuatya. Ia belum tahu kalau budaknya
adalah Nabi.
Di hari
lain, ketika si majikan mau berpergian jauh, ia meminta kepada Nabi Khidir
menjaga rumahnya baik-baik. Tetapi Nabi tidak mau. Ia meminta diberi pekerjaan
seperti sebelumnya. Akhirnya majikan menyuruh budaknya untuk membangun rumah.
Nabi pun menyanggupinya.
Namun,
ketika sang majikan pulang kembali, ia heran. Batu bata yang dikehendaki sudah
menumpuk. Bahkan rumah pun sudah dibuatkan dengan baik. Maka majikan bertambah
heran, dan ingin tahu lebih dalam siapa sebenarnya budaknya itu.
“Dengan
nama Allah, Siapakah kamu sebenarnya? Dan mengepa kau menjadi budak?”
“karena
engkau menyebut nama Allah, dan ini karna Allah pula, maka perlu aku katakana,
bahwa aku sebenarnya adalah Nabi Khidir. Aku jadi begini karna seorang pengemis
yang meminta diriku untuk sedekah dengan menyebut nama Allah. Aku sebenarnya
tidak punya apa-apa. Tapi karna si pengemis minta diriku dijadikan sedekah,
maka akupun jadi budak dan dijual padamu.”
“Ketahuilah,
barangsiapa yang diminta sesuatu oleh Allah dan tidak suka memberinya, maka
diakhirat ketika ia menghadap Allah dengan tanpa daging dan nafasnya pun
terenggah-enggah,” kata Nabi Khidir.
Seketika
majikan tersebut memohon maaf karena menyusahkan Nabi Khidir. Ia lalu menyilangkan
Nabi Khidir melakukan apapun yang dikehendaki, Namun Nabi Khidir memilih
merdeka, agar bebas melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.
(Search = LAA
Remaja – MPA 114/MARET 1996, magazine)







0 komentar:
Posting Komentar