RSS

Nabi Khidir jadi budak

Alkisah, Nabi Khidir terkenal sangat alimnya. Suatu ketika ia berpergian kepasar. Dalam perjalanannya itu, ia disapa oleh seorang pengemis yang memohon sedekah. Karena merasa iba, Nabi Khidir mendekatinya. Pengemis itu mengulangi permohonannya disertai do’a.
Nabi Khidir hatinya terketuk dan yakin, bahwa kelak kehendak Allah jua orang ini jadi begini. Tapi Nabi khidir sangat menyesal karena tidak mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada pengemis itu.
“Maaf aku tak punya apa-apa yang bisa kuberikan padamu,”
Pengemis itu lalu menyebut nama Allah dan berkata, “Berilah alu sedekah ala kadarnya. Aku lihat wajahmu yang baik. Tolong berilah aku sedekah!”
Lalu Nabi Khidir menjawab : “Dengan menyebut nama Allah pula, aku mohon maaf. Aku tidak punya apa-apa. Tetapi jia kau menghendaki diriku, maka aku rela menjadi budakmu.”
Lalu apa kata pengemis kemudian??
“Bolehkan aku menjual dirimu?”
“karena kau dengan menyebut nama Allah, aku bersedia menjadi budakmu. Ini tenti karena kebesaran Allah juga yang kau inginkan. Karena itu juallah diriku kepada orang lain agarmemperoleh uang yang cukup.”
Seketika itu pengemis berdiri mengawasi orang-orang yang lewat disitu. Ia mencari orang yang dipandang mampu membeli Nabi Khidir untuk dijadikan budak.
Tidak lama kemudian Nabi khidir terbeli oleh seorang pedagang dengan harga empat dirham. Nabi Khidir pun ikut majikannya yang baru.

Telah berhari-hari Nabi khidir berada dirumah majikan, namun tak pernah menerima perintah apapun dari majikannya. Akhirnya Nabi pun merasa tidak enak. Maka timbullah keingininannya untuk menanyakan kepada majikannya.
“Mengapa engkau tidak pernah menyuruhku, padahal aku sudah jadi budakmu?” Tanya Nabi Khidir.
“Aku tidak tega melihatmu, karena engkau sudah tua dan tampak lemah.”
“Walaupun aku sudah tua, tapi tak ada yang berat bagiku. Berilah aku tugas.”
Karena Nabi meminta, ia pun disuruh majikannya untuk memindahkan bebatuan yang ada dihalaman rumah. Tidak lama kemudian pekerjaan itu selesai dengan cepat. Majikannya baru pergi sebentar, heran dibuatya. Ia belum tahu kalau budaknya adalah Nabi.
Di hari lain, ketika si majikan mau berpergian jauh, ia meminta kepada Nabi Khidir menjaga rumahnya baik-baik. Tetapi Nabi tidak mau. Ia meminta diberi pekerjaan seperti sebelumnya. Akhirnya majikan menyuruh budaknya untuk membangun rumah. Nabi pun menyanggupinya.
Namun, ketika sang majikan pulang kembali, ia heran. Batu bata yang dikehendaki sudah menumpuk. Bahkan rumah pun sudah dibuatkan dengan baik. Maka majikan bertambah heran, dan ingin tahu lebih dalam siapa sebenarnya budaknya itu.
“Dengan nama Allah, Siapakah kamu sebenarnya? Dan mengepa kau menjadi budak?”
“karena engkau menyebut nama Allah, dan ini karna Allah pula, maka perlu aku katakana, bahwa aku sebenarnya adalah Nabi Khidir. Aku jadi begini karna seorang pengemis yang meminta diriku untuk sedekah dengan menyebut nama Allah. Aku sebenarnya tidak punya apa-apa. Tapi karna si pengemis minta diriku dijadikan sedekah, maka akupun jadi budak dan dijual padamu.”
“Ketahuilah, barangsiapa yang diminta sesuatu oleh Allah dan tidak suka memberinya, maka diakhirat ketika ia menghadap Allah dengan tanpa daging dan nafasnya pun terenggah-enggah,” kata Nabi Khidir.
Seketika majikan tersebut memohon maaf karena menyusahkan Nabi Khidir. Ia lalu menyilangkan Nabi Khidir melakukan apapun yang dikehendaki, Namun Nabi Khidir memilih merdeka, agar bebas melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

(Search = LAA Remaja MPA 114/MARET 1996, magazine)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar